KONSTITUEN FEDERASI
Serikat Pekerja Pertamina-Unit Pemasaran I (SPP-UPms I Medan)
Serikat Pekerja Pertamina Seluruh Indonesia UPms I Tanjung Uban (SPPSI UPms I Tanjung Uban)
Serikat Pekerja Kilang Minyak Putri Tujuh (SP KMPT) RU II Dumai
Serikat Pekerja Pertamina Pemasaran & Niaga (SP3N) Sumbagsel
Serikat Pekerja Pertamina (SPP) RU III Plaju
Serikat Pekerja Pertamina Seluruh Indonesia (SPPSI) Jakarta
Serikat Pekerja Pertamina Unit Pemasaran III (SPP-UPms III) Jakarta
Serikat Pekerja Forum Komunikasi Pekerja & Pelaut Aktif (SP FKPPA) Jakarta
Serikat Pekerja PERSADA IV Jateng & DIY
Serikat Pekerja Pertamina Balongan Bersatu (SP PBB)RU VI Balongan
Serikat Pekerja Pertamina Patra Wijaya Kusuma (SPP PWK) RU IV Cilacap
Serikat Pekerja Pertamina Sepuluh November (SPPSN) MOR V Surabaya
Serikat Pekerja Mathilda Balikpapan
Serikat Pekerja Pertamina Celebes UPms VII Makassar
Serikat Pekerja Pertamina Kawasan Timur Indonesia (SPP KTI) RU VII Kasim
Serikat Pekerja Mutiara Jayapura
Serikat Pekerja Pertamina Geothermal Energy Jakarta (SP PGE Jakarta)
Serikat Pekerja Pertamina EP Jakarta (SP PEP Jakarta)

FSPPB: Perang Matahari Pertamina, Tak Berkaitan Dengan Demo JV RDMP Cilacap

Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) menepis adanya pemberitaan di media yang mengaitkan gerakan penolakan Joint Venture (JV) Refinery Development Master Plan (RDMP) kilang Cilacap yang dilakukan para pekerja, dihubungkan dengan ‘mata hari kembar’ di Pertamina.

Presiden FSPPB, Noviandri mengaku tidak tahu-menahu persoalan dua mata hari tersebut. Namun yang pasti ujarnya, gerakan serikat menolak JV RDMP tersebut karena dinilai membahayakan kedaulatan negara.

Diketahui perjanjian itu tidak mempunyai terminasi (batas waktu kontrak), sehingga rekanan akan selama-lamanya memiliki saham atas aset selagi kilang tersebut beroperasi.

“Kami mengklarifikasi adanya pemberitaan di media bahwa gerakan penolakan serikat atas JV ini dikaitkan dengan matahari kembar di Pertamina. Kami tidak tahu persis masalah mata hari kembar itu. Tapi yang pasti JV ini sangat berbahaya karena tidak ada terminasi. sepanjang kilang itu ada maka rekanan tetap memiliki bisnis di Indonesia melalui kilang itu,” ujarnya di Jakarta ditulis Rabu (28/12).

Namun dia memaklumi isu yang berkembang tersebut, dia menganggap hal itu disebabkan belum sampainya informasi yang lengkap dari pihaknya.

“Kami kira karena pengamat tersebut belum mendapat informasi yang lengkap dari kami. Gerakan serikat berdasarkan gerakan hati nurani atas rasa cinta kepada bangsa ini,” tandasnya.

Sebelumnya Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI), Yusri Usman mengaitkan gerakan demo oleh Serikat Pekerja Pertamina Unit RU IV Cilacap dengan ‘perang dingin’ yang ada di Pertamina.

“Saya dikagetkan oleh gerakan demo Serikat Pekerja Karyawan Pertamina Unit RU IV Cilacap pada tgl 23 Desember 2016 untuk menolak kebijakan Direksi Pertamina menyangkut Refinery Develoment Nasterpalan Proyect (RDMP),” ujarnya, Minggu (25/12)

Menurut Yusri, kejadian ini berawal dari kebijakan Meteri Rini Soemarno yang berupaya menyingkirkan posisi Dwi Sutjipto sebagai Dirut Pertamina yang kabarnya telah mengancam posisi Rini sebagai Menteri BUMN pada resuffle jilid 3 pada bulan juli 2016.

“Dugaan langkah itu semakin nyata ketika Rini Soemarno melakukan kebijakan ‘hatrick’ terhadap manajemen Pertamina,” katanya.

Pertama, Rini merombak struktur dengan menambahkan jabatan Wakil Dirut dan Direktur Megaproyek. Kemudian mengangkat Ahmad Bambang sebagai Wakil Dirut Pertamina yang membawahi Direktorat Pemasaran, Direktorat Pengolahan dan Direktorat Energi Baru Terbarukan , dan bahkan akan menarik Fungsi ISC dibawahnya.

Tidak hanya itu, Rini juga mengangkat Toharso (latarbelakang pemasaran sepanjang karirnya) menjadi Direktur Pengolahan. Kejadian ini bertepatan pada hari demo damai 212, sehingga dipilih momentum pada saat perhatian publik terkalahkan.

“Dengan ke tiga langkah itu, maka sempurnalah pencipta mata hari kembar di Pertamina oleh Rini. Tentu posisi Direktur utama semakin lemah dan akan menjadi kambing hitam dari setiap proyek,” tandas Yusri.

Untuk diketahui, Direksi Pertamina sudah menanda tangani JV RDMP Cilacap untuk meningkatkan kapasitas kilang saat ini sebesar 348.000 barel perhari ( Bph) menjadi 400.00 Bph dengan peningkatan Nelson Complexity Index (NCI) mencapai 9, 4 dari angka semula 4. Proyek ini juga akan menghasilkan BBM standar Euro 5 dengan total nilai investasi sekitar USD 5 miliar.


Sumber : http://www.aktual.com/fsppb-perang-matahari-pertamina-tak-berkaitan-demo-jv-rdmp-cilacap/

09-Jan-2017 00:00:00
Dikirim Oleh : Administrator
SUARA AKTIVIS
Bambang RH
06-Jul-2015 07:43:57

BlOK MAHAKAM

Meski sudah 100% di katakan ...
Readmore

-
Rinson Gultom
30-Nov-1999 00:00:00

Sebagai Insan Pertamina yang bekerja di ...
Readmore

-
Ibnu Wibisono
02-Jul-2015 08:15:22

Ditugaskan di Pertamina mau tidak mau, ...
Readmore

-
30-Jun-2015 06:51:10
FSPPB sebagai wadah bersatuanya Serikat Pekerja-Serikat Pekerja ...
Readmore
-
Adriwal
29-Jun-2015 08:58:46

Blok Mahakam adalah kepunyaan Bangsa Indonesia.

Untuk ...
Readmore

-
Noviandri
30-Nov-1999 00:00:00
Halo Aktivis
Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh
Salam sejahtera bagi kita ...
Readmore
-
26-Jun-2015 09:07:33
Melihat bahwa kemandirian Serikat Pekerja adalah syarat mutlak dalam membangun ...
Readmore
-
Abdul Halim
26-Jun-2015 09:09:43
Menjadi aktivis Serikat Pekerja merupakan suatu pilihan. Ketika sudah menceburkan ...
Readmore
-
< >