KONSTITUEN FEDERASI
Serikat Pekerja Pertamina-Unit Pemasaran I (SPP-UPms I Medan)
Serikat Pekerja Pertamina Seluruh Indonesia UPms I Tanjung Uban (SPPSI UPms I Tanjung Uban)
Serikat Pekerja Kilang Minyak Putri Tujuh (SP KMPT) RU II Dumai
Serikat Pekerja Pertamina Pemasaran & Niaga (SP3N) Sumbagsel
Serikat Pekerja Pertamina (SPP) RU III Plaju
Serikat Pekerja Pertamina Seluruh Indonesia (SPPSI) Jakarta
Serikat Pekerja Pertamina Unit Pemasaran III (SPP-UPms III) Jakarta
Serikat Pekerja Forum Komunikasi Pekerja & Pelaut Aktif (SP FKPPA) Jakarta
Serikat Pekerja PERSADA IV Jateng & DIY
Serikat Pekerja Pertamina Balongan Bersatu (SP PBB)RU VI Balongan
Serikat Pekerja Pertamina Patra Wijaya Kusuma (SPP PWK) RU IV Cilacap
Serikat Pekerja Pertamina Sepuluh November (SPPSN) MOR V Surabaya
Serikat Pekerja Mathilda Balikpapan
Serikat Pekerja Pertamina Celebes UPms VII Makassar
Serikat Pekerja Pertamina Kawasan Timur Indonesia (SPP KTI) RU VII Kasim
Serikat Pekerja Mutiara Jayapura
Serikat Pekerja Pertamina Geothermal Energy Jakarta (SP PGE Jakarta)
Serikat Pekerja Pertamina EP Jakarta (SP PEP Jakarta)

Buruh di Cilacap Tolak Kerjasama Pertamina dan Saudi Aramco

Ratusan pekerja Pertamina Refinery Unit IV Cilacap menggelar aksi menolak kerja sama antara Pertamina dan Saudi Aramco dalam pembangunan peningkatan kapasitas kilang eksisting di Cilacap, Jawa Tengah.

Dalam aksi yang digelar di halaman Gedung Patra Graha, Cilacap, Jumat (23/12) sore massa yang tergabung dalam Serikat Pekerja Pertamina Patra Wijaya Kusuma mengenakan ikat kepala warna hitam, dan membawa spanduk warna hitam bertuliskan “Jangan Gadaikan Kilang Kami-Masa Berkabung Sampai Dibatalkannya Joint Venture”.

Selain diisi orasi oleh Ketua Umum SPP-PWK Eko Sunarno, dalam aksi keprihatinan tersebut, juga diisi dengan pembacaan pernyataan sikap oleh Sekretaris Jenderal SPP-PWK Titok Dalimunthe, menyanyikan lagu Bagimu Negeri dan doa bersama.

Sebelum doa bersama, massa terlebih dahulu menggelar aksi teatrikal berupa peletakan helm proyek di atas hamparan spanduk warna hitam yang mereka bawa. Aksi peletakan helm itu sebagai bentuk keprihatinan pekerja atas penandatanganan kerja sama antara Pertamina dan Saudi Aramco dalam pembangunan peningkatan kapasitas kilang eksisting (Refinery Development Masterplan Program/RDMP) di Pertamina RU IV Cilacap.

Aksi keprihatinan tersebut diakhiri dengan penandatanganan spanduk warna putih yang bertuliskan “Pekerja RU IV Mendukung RDMP Cilacap 100 Persen Pertamina, Tolak Joint Venture dengan Aramco” oleh para pekerja.

Saat ditemui usai aksi, Ketua Umum SPP-PWK Eko Sunarno mengatakan bahwa pihaknya menolak adanya kerja sama dalam bentuk joint venture, karena mengebiri kilang RU IV yang 100 persen milik Pertamina dan akan dikembangkan lebih besar lagi.

Akan tetapi, dengan adanya joint venture dengan Saudi Aramco, kata dia, kepemilikan Pertamina atas kilang RU IV hanya 55 persen dan selebihnya milik perusahaan minyak asal Arab Saudi tersebut.

“Kemarin, 22 Desember, ada penandatanganan (kerja sama antara Pertamina dan Saudi Aramco). Itu cukup membuat kami prihatin, kecewa, karena dahulu ‘founding fathers’ kita mengakuisisi perusahaan-perusahaan minyak asing yang beroperasi di Indonesia, kemudian menggabungkannya menjadi Pertamina.”

Dia mengatakan hal itu bertujuan agar Indonesia memiliki kemandirian dalam energi. Sumber-sumber yang penting harus dikuasai negara dan digunakan semakmur-makmurnya untuk masyarakat.

Dengan diberikannya 45 persen kepada Saudi Aramco, kata dia, kemandirian dalam pengelolaan bahan bakar minyak yang merupakan komoditas strategis karena berpengaruh pada perekonomian yang lain mengakibatkan Indonesia, khususnya Pertamina, tidak mandiri.

Eko mengatakan bahwa pihaknya masih berkoordinasi dengan Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (terkait dengan langkah-langkah yang akan dilakukan pascapenandatanganan kerja sama tersebut. Dia mengatakan bahwa pihaknya juga berencana bertemu dengan tokoh-tokoh nasional maupun ke DPR RI.

“Apa pun yang diperintahkan oleh Federasi, kami siap melaksanakan. Bahkan, teman-teman dari SPP Pengolahan juga mendukung kami. Demikian pula, dengan SPP Persada Marketing Operation Region IV mendukung perjuangan kami.”

Menurut dia, masih ada beberapa peluang yang dapat diambil oleh pekerja agar kerja sama tersebut dapat dibatalkan. PT Pertamina dan Saudi Aramco pada hari Kamis (22/12) menandatangani kontrak kerja sama dalam proyek peningkatan kapasitas kilang eksisting Cilacap.

Kerja sama tersebut mencakup dalam kepemilikan saham. Dalam hal ini Pertamina 55 persen dan Saudi Aramco 45 persen, pengembangan kilang, dan pengoperasian kilang.


Sumber : http://www.aktual.com/buruh-cilacap-tolak-kerjasama-pertamina-dan-saudi-aramco/

09-Jan-2017 00:00:00
Dikirim Oleh : Administrator
SUARA AKTIVIS
Bambang RH
06-Jul-2015 07:43:57

BlOK MAHAKAM

Meski sudah 100% di katakan ...
Readmore

-
Rinson Gultom
30-Nov-1999 00:00:00

Sebagai Insan Pertamina yang bekerja di ...
Readmore

-
Ibnu Wibisono
02-Jul-2015 08:15:22

Ditugaskan di Pertamina mau tidak mau, ...
Readmore

-
30-Jun-2015 06:51:10
FSPPB sebagai wadah bersatuanya Serikat Pekerja-Serikat Pekerja ...
Readmore
-
Adriwal
29-Jun-2015 08:58:46

Blok Mahakam adalah kepunyaan Bangsa Indonesia.

Untuk ...
Readmore

-
Noviandri
30-Nov-1999 00:00:00
Halo Aktivis
Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh
Salam sejahtera bagi kita ...
Readmore
-
26-Jun-2015 09:07:33
Melihat bahwa kemandirian Serikat Pekerja adalah syarat mutlak dalam membangun ...
Readmore
-
Abdul Halim
26-Jun-2015 09:09:43
Menjadi aktivis Serikat Pekerja merupakan suatu pilihan. Ketika sudah menceburkan ...
Readmore
-
< >